Isi Buku Tamu

Guestbook

Lihat data pengunjung

Hit Counter free counters Free counter and web stats Add to Google Reader or HomepagePowered by FeedBurner

rss

Sugeng Rawuh


Sumangga dipunsekecakaken, mugi Para Kanca Sastra Jawa Sutresna kersa nilaraken panyaruhe. Pamanggih panjenengan mugi saged ndadosaken kasampurnanipun blog Sastra Jawa menika. Nuwun

Kamis, Desember 11, 2008

Cerita Rakyat Jawa Tengah

Timun Mas

Diceritakan kembali oleh Renny Yaniar

Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.

Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun.


"Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan," kata Raksasa. "Terima kasih, Raksasa," kata suami istri itu. "Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku," sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.

Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.

Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.

Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas.

Petani itu mencoba tenang. "Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya," katanya. Petani itu segera menemui anaknya. "Anakkku, ambillah ini," katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. "Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin," katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.

Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan.

Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah.

Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah raksasa. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri.

Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur.

Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.

Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. "Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku," kata mereka gembira.

Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.

http://www.geocities.com/kesumawijaya/ceritarakyat/jateng1.html

Comments
5 Comments

5 komentar:

SH Terate Sragen on 22 Januari 2009 21.40 mengatakan...

mas bisa minta bantua gk...? aku mau cari artikel seni budaya jawa pakai bahasa jawa ada gak...?

cerita wayangnya bagus2 mas...?tolong ditambah lagi yach....?

Sastra Jawa on 16 Februari 2009 13.38 mengatakan...

Sementara belum ada,

atau gini aja, kamu nyuari yang berbahasa indonesia nanti aku translat ke bahasa jawa...

janganlupa dicantumkan sumbernya...
sementara aku juga tak nyari,

celine mengatakan...

ceritanya pake boso Jowo to!!

Sastra Jawa on 12 Mei 2009 20.43 mengatakan...

iya ngapuntene nggih,
kala ru,iyin nembe sibuk...

Anonim mengatakan...

kang Yoni, ngenani cicak vs buaya ingkang rame dipun bahas wonten media, cicak vs buaya menika kalebet saloka napa boten? utawi kalebet ukara sanesipun...Whafik. Mr


Poskan Komentar

Kritik lan pamanggih panjenengan saged mbiyantu kesaenan blog menika.

(Komentar tidak di moderasi. Tapi apabila ada content yang tidak selayaknya ditulis maka akan dihapus)

MENU UTAMA

Sugeng Rawuh Ing Blog Sastra Jawa

MENU SASTRA JAWA

ISI BLOG SASTRA JAWA

Crita Rakyat

Ngengingi Blog Sastra Jawa

    SUGENG RAWUH

    Sugeng Rawuh, Katur para Jawa Sutresna ingkang sampun setya. Sastra Jawa Blog menika minangka salah satunggaling sasana kangge nguri-uri sastra lan kabudayan jawi. Sastra Jawi menika warisan saking para leluhur kang wigati sanget. Amargi sastra menika minangka arta, pusaka, lan uga rasa, rasa ing Jawa.
    Ing blog menika taksih kathah ingkang kedah dipunleresaken, bilih panjenengan kagungan pamanggih kirim mawon ing "JARWO37@GMAIL>COM"
    Nuwun...

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner

Facebook Sastra Jawa

WEBSITE JAWA

BLOG KANCA

http://www.matswopati.tk http://3.bp.blogspot.com/_ZdnBgKlafrE/TPebrH3NP7I/AAAAAAAABqo/FllldSZ0wIw/s1600/wayangkulit.jpg
 Berikan donasi sebagai wujud kepedulian kepada kebudayaan Jawa. Dana Iklan digunakan sepenuhnya untuk keberlangsungan blog Sastra Jawa. Pasang iklan KLIK
 Berikan donasi sebagai wujud kepedulian kepada kebudayaan Jawa. Dana Iklan digunakan sepenuhnya untuk keberlangsungan blog Sastra Jawa. Pasang iklan KLIK

Ngengingi Sastra Jawa Blog

ARSIP
Unduh
LINK
Pesbuk
Kontributor
  

Follow Sastra Jawa blog
ARSIP BLOG SASTRA JAWA


 

Pengikut

SUGENG RAWUH ING BLOG SASTRA JAWA
go to my homepage
..:: Klik gambar mlebet blog ::..
Bahasa, Sastra, lan kabudayan Jawi punika satunggaling waris ingkang kedah dipunuri-uri
Sugeng Rawuh, Katur para Jawa Sutresna ingkang sampun setya. Sastra Jawa Blog menika minangka salah satunggaling sasana kangge nguri-uri sastra lan kabudayan jawi. Sastra Jawi menika warisan saking para leluhur kang wigati sanget. Amargi sastra menika minangka arta, pusaka, lan uga rasa, rasa ing Jawa.
Ing blog menika taksih kathah kekirangan, bilih panjenengan kagungan pamanggih kirim mawon ing "BLOG@SASTRAJAWA.CO.CC"
Nuwun...

Isi buku Tamu || FaceBook Sastra Jawa || Profil Kula

| | |
Copyright@sastra-jawa007